Categories
Berita

PEMERINTAH KESULITANMENDATA KORBAN GEMPA LOMBOK

JAKARTA — Pemerintah belum satu suara dalam menyampaikan data jumlah korban gempa berkekuatan 7 pada skala Richter di Lombok pada Ahad lalu. Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengaku kesulitan menyeragamkan informasi perihal jumlah korban meninggal. “Ini terjadi karena tidak melapor,” kata dia kepada Tempo, kemarin. Menurut Sutopo, perbedaan data jumlah korban dari satu institusi dengan institusi lain dalam setiap bencana, termasuk gempa Lombok, biasa terjadi. Ia menyebutkan instansi seperti BNPB, Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian, dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memiliki data masing-masing sesuai dengan informasi yang diperoleh di lapangan.

Data dari BNPB menyatakan sebanyak 131 orang meninggal akibat gempa, 1.477 orang terluka, dan 42.239 unit rumah rusak. Sedangkan TNI melansir jumlah korban mencapai 381 orang dengan 1.033 orang mengalami luka-luka. Adapun Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menyatakan ada 226 korban meninggal. Jumlah itu serupa dengan yang disampaikan Basarnas. Namun Pemerintah Kabupaten Lombok Utara menyebutkan jumlah data korban meninggal hingga kemarin mencapai 347 orang. Sutopo menjelaskan, data tersebut bisa saja semuanya valid berdasarkan informasi yang ditemukan di lapangan. Namun akan lebih baik jika disamakan dengan cara semua institusi melapor ke Posko Pendampingan Nasional. “Saya sudah meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTB menyamakan data dengan membahas bersama kementerian dan lembaga,” ujarnya. Sutopo mengatakan data korban berbeda-beda karena diduga masih banyak korban yang tertimbun reruntuhan bangunan.

Saat ini tim gabungan masih mengevakuasi para korban dengan mengerahkan 18 alat berat dan empat ekor anjingpelacak. Adapun korban yang diduga masih tertimbun berada di Lombok Utara dan Lombok Timur, yang merupakan daerah terparah. Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rudi Suhendar bersepakat bahwa dua wilayah tersebut merupakan lokasi dengan kerusakan paling parah. Dia mengatakan telah mengirim tim tanggap darurat gempa dan gerakan tanah untuk meneliti lebih lanjut kerusakan geologi di lokasi itu. Sebelumnya, mereka menemukan retakan tanah dan longsor di jalan penghubung Kecamatan Pemenang, Tanjung, dan Gangga di Lombok Utara. “Guncangan gempa itu juga memicu terjadinya likuifaksi (berkurangnya kekuatan tanah) di sejumlah lokasi, seperti Gangga, Lombok Utara,” tuturnya. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi Kasbani membenarkan bahwa kerusakan akibat dua gempa Lombok yang hanya berselang sepekan terjadi paling parah terjadi di Lombok Timur dan Lombok Utara. “Bangunan yang masih berdiri tinggal 20 persen,” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *